BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Dalam
mempelajari sebuah disiplin ilmu, kita harus mengetahui bagaimana metode atau
cara-cara yang ada dalam mempelajari sebuah disiplin ilmu tersebut. Dalam
belajar sebuah disiplin ilmu kita juga harus mengetahui bagaimana atau apa saja
ilmu bantu yang ada dari disiplin ilmu tersebut, karena sebuah disiplin ilmu
pasti memerlukan ilmu-ilmu bantu. Selain kedua hal tersebut, kita juga harus
mengetahui bagaimana hubungan disiplin ilmu tersebut dengan disiplin ilmu-ilmu
yang lain.
Semua
uraian di atas juga terdapat dalam disiplin ilmu sejarah. Dalam mempelajari
disiplin ilmu sejarah kita tidak lepas dari metode-metode atau cara-cara,
apalagi sejarah adalah sebuah ilmu tentang kehidupan di masa lampau, agar
penjelasan tentang masa lampau tersebut dapat dimengerti atau dipahami tentunya
dalam membuat sebuah pernyataan sejarah seorang sejarawan harus memiliki
metode-metode. Dalam upaya penjelasan sejarah para sejarawan juga tidak lepas
dari bantuan ilmu-ilmu yang lain, karena dalam pengumpulan data-data untuk
penjelasan sejarah seorang sejarawan harus menggunakan ilmu bantu seperti, ilmu
tentang gejala alam, ilmu tentang masyarakat, dan yang lainnya. Selain itu,
sejarah tentunya juga memiliki hubungan dengan ilmu yang lainnya. Walaupun
sejarah adalah ilmu yang mandiri, tapi sejarah juga memiliki hubungan dengan
ilmu yang lainnya.
1.2.
Rumusan
Masalah
1.
Apa metode-metode dalam ilmu sejarah ?
2.
Apa ilmu bantu dalam ilmu sejarah ?
3.
Bagaimana hubungan ilmu sejarah dengan ilmu yang lain ?
1.3.
Tujuan
1.
Menjelaskan apa saja metode-metode dalam ilmu sejarah.
2.
Menjelaskan ilmu-ilmu bantu dalam ilmu sejarah.
3.
Menjelaskan bagaimana hubungan ilmu sejarah dengan
ilmu-ilmu yang lain.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Metode
Dan Ilmu Bantu Sejarah
Dalam metodologi riset, kita
sering mendengar metode historis dengan langkah-langkah, define the problems or question to be investigated; searh for sources
of historical fact; summarize and evalute the historical source; and present
the pertinent facts within an interpretative framework (Edson, 1986: 20) ‘menggambarkan
permasalahan atau pertanyaan untuk diselidiki; mencari sumber tentang fakta
historis; meringkas dan mengevaluasi sumber-sumber historis; dan menyajikan
fakta-fakta yang bersangkutan dalam suatu kerangka interpretatif’. Sepintas,
tampaknya begitu mudah untuk mengadakan penelitian historis tersebut, namun
dalam praktiknya tidak saemudah yang kita bayangkan. Secara sederhana, Ismaun
(1993: 125-123) mengemukakan bahwa dalam metode sejarah meliputi meliputi (1)
heuristik (pengumpulan sumber-sumber); (2) kritik atau analisis sumber
(eksternal dan internal); (3) interpretasi; (4) historiografi (peulisan
sejarah). Di sini jelas bahwa untuk melakukan penelitian dan penulisan sejarah
dituntut keterampilan-keterampilan khusus tertentu.
Namun, seorang sejarawan ideal,
baik itu sejarawan profesional maupun sebagai sejarawan pendidik (guru sejarah)
perlu memiliki latar belakang beberapa kemampuan yang dipersyaratkan. Sjamsudin
(1996: 68-69) merinci ada tujuh kriteria yang dipersyaratkan sebagai sejarawan,
sebagai berikut.
1.
Kemampuan praktis mengartikulasi dan mengekspresikan
pengetahuannya secara menarik, baik secara tertulis maupun lisan.
2.
Kecakapan membaca dan/atau berbicara dalam satu atau dua
bahasa asing atau daerah.
3.
Menguasai satu atau lebih disiplin kedua, terutama
ilmu-ilmu sosial lainya, seperti antropologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu
ekonomi, atau ilmu-ilmu kemanusian (humaniora), seperti filsafat, seni atau
sastra, bahkan kalau mungkin relevan juga yang berhubungan dengan ilmu-ilmu
alam.
4.
Kelengkapan dalam penggunaan pemahaman (insight)
psikologi, kemampaun imajinasi, dan empati.
5.
Kemampuan membedakan antara profesi sejarah dan sekedar
hobi antikurian, yaitu pengumpulan benda-benda antik.
6.
Pendidikan yang luas (broad culture) selama hidup sejak
dari masa kecil.
7.
Dedikasi pada profesi dan integrasi pribadi, baik sebagai
sejarawan peneliti maupun sebagai sejarawan pendidik.
Selanjutnya, dikemukakan pula
oleh Gray (1964: 9) bahwa seorang sejarawan minimal memiliki enam tahap dalam
penelitian sejarah.
1.
Memilih suatu topik yang sesuai.
2.
Mengusut semua evidensi atau bukti yang relevan dengan
topik.
3.
Membuat catatan-catatan penting dan relevan dengan topik
yang ditemukan ketika penelitian dilakukan.
4.
Mengevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah
dikumpulkan atau melakukan kritik sumber secara eksternal dan internal.
5.
Mengusut hasil-hasil penelitian dengan mengumpulkan
catatan fakta-fakta secara sistematis.
6.
Menyajikan dalam suatu cara yang menarik serta
mengomunikasikannya kepada pembaca dengan menarik pula.
Sedangkan
sebagai ilmu bantu dalam penelitian, sejarah terdiri atas hal-hal berikut.
1.
Paleontologi, yaitu ilmu tentang bentuk-bentuk kehidupan
purba pernah ada di muka bumi, terutama fosil-fosil.
2.
Arkeologi, yaitu kajian ilmiah mengenai hasil kebudayaan,
baik dalam priode prasejarah maupun priode sejarah yang ditemukan melalui
ekskavasi-ekskavasi di situs-situs arkeolog.
3.
Paleontropologi, yaitu ilmu tentang manusia-manusia purba
atau antropologi ragawi.
4.
Paleografi, yaitu kajian tentang tulisaan-tulisan kuno,
termasuk ilmu membaca dan penentuan waktu/tanggal/tahun.
5.
Epigrafi, yaitu pengetahuan tentang cara membaca,
menentukan waktu, serta menganalisis tulisan kuno pada benda-benda yang dapat
bertahan lama (batu, logam, dan sebagainya)
6.
Ikonografi, yaitu arca-arca atau patung-patung kuno sejak
zaman prasejarah maupun sejarah.
7.
Numisnatik, yaitu tentang ilmu mata uang, asal usul,
teknik pembuatan, dan mitologi.
8.
Ilmu keramik, kajian tentang barang-barang untuk tembikar
dan porselin.
9.
Genealogi, yaitu pengetahuan tentang asal usul nenek
moyang asal mula keluarga seseorang maupun beberapa orang.
10.
Filologi, yaitu ilmu tentang naskah-naskah kuno.
11.
Bahasa, yaitu pengusaan tentang beberapa bahasa, baik
bahasa asing maupun bahsa daerah yang diperlukan dalam penelitian sejarah.
12.
Statistik, adalah sebagai presentasi analisis dan
interpretasi angka-angka terutama dalam quantohistory atau cliometry
13.
Etnografi, merupakan kajian bagian antropologi tentang
deskripsi dan analisis kebudayaan suatu masyarakat tertentu.
2.2.
Hubungan Ilmu Sejarah Dengan Ilmu-Ilmu Sosial Lainya
1.
Hubungan Sejarah dengan Sosiologi
Hal ini lebih tampak lagi
dengan cepatnya perubahan sosial jelas menarik perhatian bukan saja sejarawan,
tetapi juga sosiologiwan. Sebab para sosiologiwan yang menganalisis berbagai persyaratan
pembangunan pertanian dan industri di negara-negara yang disebut negara
berkembang memperoleh kesan yang mereka kaji adalah tentang perubahan dari
waktu ke waktu, dengan kata lain sejarah. Sebagian di antaranya, seperti
sosiologiwan Amerika Serikat Imanuel Wallerstein yang begitu tergoda untuk
memperluas penyelidikannay hingga jauh ke masa silam, khususnya tentang Ekonomi
Dunia Kapitalis (Wallerstein, 1996: 537).
Terdapat tiga tokoh besar ahli
sosiologiwan yang sangat mengagumi sejarah, yaitu Pareto, Durkheim, dan Weber,
mereka menguasai sejarah dengan amat baik. Buku Vilfredo Pareto, Treatise on
General Sociology (1916) banyak berbicara tentang sejarah Athena, Sparta,
Romawi klasik dengan mengambil contoh-contoh sejarah Italia Abad Pertengahan.
Sementara itu, Emile Durkheim yang dikenal sebagai salah seorang tokoh pendiri
sosiologi sebagai ilmu, ia melakukan pembedaan antara sosiologi, sejarah,
filsafat, dan psikologi. Dia merasa perlu belajar sejarah kepada Fustel de
Coulanges. Bahkan, salah satu bukunya itu dipersembahkan untuk Coulanges, ia
pun menulis monograf sejarah pendidikan Prancis. Selain itu, ia menjadikan buku
sejarah sebagai salah satu sajian jurnal Anne Sociologique, dengan syarat
pembahasan buku itu bukan hal-hal yang superfisial seperti umumnya buku-buku
sejarah peristiwa (Lukes, 1973; Burke, 2001). Sedangkan tentang Max Weber,
sosiologi yang memiliki wawasan luas tentang sejarah, sebelum melakukan studi
untuk bukunya The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism (1904-1905),
sebelumnya ia telah menulis tentang perniagaan abad pertengahan serta sejarah
pertanian zaman Romawi Kuno.
Apalagi akhir-akhir ini banyak
sekali karya sosiologiwan diterbitkan yang berupa studi sosiologis mengenai
gejala sosial atau sociofact di masa lampau, seperti Pemberontakan Petani karya
Tilly, Perubahan masa Revolusi Industri di Inggris oleh Smelzer, dan Asal Mula
Sistem Totaliter dan Demokrasi oleh Barrington Moore, yang kesemuannya itu
disebut sebagai historical sociology ‘sejarah sosiologis’ (Kartodirdjo, 1992:
144). Adapun karakteristik dari historical sosiology tersebut bahwa studi
sosiologis tentang suatu kejadian atau gejala di masa lampau yang dilakukan
oleh para sosiologiwan.
Di satu pihak, sekarang ini pun
sedang terjadi apa yang disebut sociological history (sejarah sosiologis) yang
menunjuk kepada sejarah ang disusun oleh sejarawan dengan pendekatan
sosiologis. Timbul pertanyaan, mengapa perkembangan ilmu sejarah atau studi
sejarah kritis sejak akhir Perang Dunia II menunjukkan kecenderungan kuat untuk
mempergunakan pendekatan ilmu sosial?
Untuk menjawab itu, memang akhir-akhir ini
sedang terjadi a[a yang disebut sebagai gejala Rapprochement atau proses saling
mendekat antara ilmu sejarah dan ilmu-ilmu sosial. Metode kritis ini berkembang
pesat sejak diciptakan oleh Mabilon sehingga terjadi inovasi-inovasi yang
sangat penting dalam sejarah,yang mana dapat menyelamatkan sejarah dari
“kemacetan” (Kartodirdjo:1992: 120). Sebab jika dipandang dari titik sejarah
konvensional, perubahan metodologi tersebut sangat revolusioner dengan
meninggalkan model penulisan sejarah naratif. Dikatakan revolusioner karena
ilmu sejarah lebih bergeser ke ilmu sosial. Perubahan paradigma ini beranggapan
bahwa dapat diingkari tanpa bantuan budaya, dan geografi, sukar dianalisis dan
dipahami proses-prosesnya. Kombinasi antar berbagai perspektif akan mampu
mengekstrapolasikan interdepensi antara berbagai aspek kehidupan. Dalam hal
ini, sejarawan tidak langsung berurusan dengan kausalitas, tetapi lebih banyak
kondisi-kondisi dalam berbagai dimensinya.
2.
Hubungan Sejarah dengan Antropologi
Hubungan ini dapat dilihat
karena kedua disiplin ini memiliki persamaan yang menempatkan manusia sebagai
subjek dan objek kajiannya, lazimnya mencakup berbagai dimensi kehidupan.
Dengan demikian, di samping memiliki titik perbedaan, kedua disiplin itu pun
memiliki persamaan. Bila sejarah membatasi diri pada penggambaran suatu
peristiwa sebagai proses di masa lampau dalam bentuk cerita secara einmalig
‘sekali terjadi’, hal ini tidak termasuk bidang kajian antropologi. Namun, jika
suatu penggambaran sejarah menampilkan suatu masyarakat di masa lampau dengan
berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, politik, religi, dan keseniannya
maka gambaran tersebut mencakup unsur-unsur kebudayaan masyarakat. Dalam hal
itu ada persamaan bahkan tumpang-tindih antara sejarah dan abtropologi
(Kartodirdjo, 1992: 153).
Memang ada persamaan yang
menarik jika hal itu dihubungkan dengan ucapan antropolog terkemuka
Evans-Pritchard. Ia mengemukakan bahwa Antropologi adalah sejarah. Hal itu
dapat dipahami karena dalam studi antropologi diperlukan pula penjelasan
tentang struktur-struktur sosial yang berupa lembaga-lembaga, pranata, dan
sistem-sistem, yang kesemuanya itu akan dapat diterangkan secara lebih jelas
apabila diungkapkan bahwa struktur itu adalah produk dari suatu perkembangan
masa lampau. Karena antropologi pun mempelajari objek yang sama, yaitu tiga
jenis fakta yang terdiri atas artifact, sociofact, dan mentifact, di mana semuanya
adalah produk historis dab hanya dapat dijelaskan eksistensinya dengan melacak
sejarah perkembangannya (Kartodirdjo,1992:153).
3.
Hubungan Antropologi Budaya dengan Sejarah
Hal ini dapat dipahami,
mengingat ada dua hal yang penting. Pertama, makna kebudayaan telah semakin
meluas karena semakin luasnya perhatian para sejarawan, sosiologiwan,
mengkritisi sastra, dan lain-lain. Perhatian semakin dicurahkan kepada
kebudayaan populer, yakni sikap-sikap dan nilai-nilai masyarakat awam serta
pengungkapannya ke dalam kesenian rakyat, lagu-lagu rakyat, cerita rakyat,
festival rakyat, dan lain-lain (Burke, 1978; Yeo dan Yeo, 1981). Kedua,
mengingat semakin luasnya makna kebudayaan semakin meningkat pula kecenderungan
untuk menganggap kebudayaan sebagai sesuatu yang aktif, bukan pasif. Kaum
strukturalis tentu telah berusaha mengembalikan keseimbangan itu yang telah
terancam begitu lama, terutama Levi-Strauss, pada mulanya begitu membanggakan
KarL Marx, akhirnya berpaling kembali kepada Hegel dengan mengatakan bahwa yang
sebenarnya struktur dalam bukanlah tatanan sosial dan ekonomi, melainkan
kategori mental (Burke, 2001: 178).
4.
Hubungan Sejarah dengan Psikologi
Dalam cerita sejarah, aktor
atau pelaku sejarah senantiasa mendapat sorotan yang tajam, baik sebagai
individu maupun sebagai kelompok. Sebagai aktor individu, tidak lepas dari
peranan faktor-faktor internal yang bersifat psikologis, seperti motivasi,
minat, konsep diri, dan sebagainya yang selalu berintraksi dengan faktor-faktor
eksternal yang bersifat sosiologis, seperti lingkungan keluarga, lingkungan
sosial budaya, dan sebagainya. Begitu pun dalam aktor yang bersifat kelompok
menunjukkan aktivitas kolektif, yaitu suatu gejala yang menjadi objek khusus
psikologi sosial. Dalam berbagai peristiwa sejarah, perilaku kolektif sangat
mencolok, antara lain sewaktu ada huru hara, masa mengamuk (mob), gerakan
sosial, atau protes revolusioner, semuanya penjelasan berdasarkan psikologi
dari motivasi, sikap, dan tindakan kolektif (Kartodirdjo, 1992: 139). Di
situlah psikologi berperan untuk mengungkap beberapa faktor tersembunyi sebagai
bagian proses mental.
Sampai sejauh ini, peranan ilmu
psikologi dalam pembahasan sejarah masih agak marginal. Alasanya terletak pada
relasi antara psikologi dengan ilmu sejarah. Pada tahun 1920-an dan 1930-an,
dua sejaran Prancis March Bloch dan Lucien Febre menyebarluaskan
praktik-praktik historical psychology ‘psikologi sejarah’. Setelah Erik
Erikson, pengikut Freud melakukan pengkajian sejarah yang dilakukan secara
psikoanalitis terhadap tokoh sejarah, ternyata menimbulkan perdebatan sengit.
Pada tahun 1940-an, ada usaha
kembali untuk mendekatkan disiplin sejarah dengan psikologi, terutama sintesis
pandangan Karl Marx dan Sigmund Freud oleh Erich Fromm, dan kajian
kolektif tentang kepribadian otoriter
yang dipimpin oleh Theodor Adorno (Fromm, 1942; Adorno, 195). Relevansi kedua
disiplin itu bagi sejarah adalah penting karena bertolak pada asumsi “jika
kepribadian dasar berbeda-beda pula antarasatu masyarakat dan masyarakat
lainnya, pastilah ia berbeda-beda pula antara satu periode dan periode lainya”.
Selain itu , pendekatan psikologis paling tidak dapat dilakukan dengan tiga
cara.
Pertama, sejarawan terbebas
dari asumsi yang hanya berdasarkan akal sehat tentang sifat manusia (Burke, 2001: 172-174). Kedua, teori para
ahli psikologi memberikan sumbangan pada proses kritik sumber. Agar
autobiografi atau buku harian dapat digunakan secara tepat sebagai bukti
sejarah, perlu dipertimbangkan usia sang penulis, posisinya dalam siklus
kehidupan, maupun catatan mimpi-mimpinya (Erikson, 1958: 701-702). Ketiga, ada
sumbangan dari para ahli psikologi bagi sejarah, yakni para psikologi telah
banyak memberi perhatian pada “psikologi pengikut” di samping pada “psikologi
pemimpin”. Di samping itu, beberapa ahli psikologi pun telah membahas hubungan
antara apa yang disebut aspek psikologistik motivasi dengan aspek sosiologistik
motivasi. Dengan kata lain, apa yang ada dalam bahasa sehari-hari disebut
sebagai motif publik dan motif pribadi (Burke, 2001: 174).
5.
Hubungan Sejarah dengan Geografi
Hubungan ini dapat dilihat dari
suatu aksioma bahwa setiap peristiwa sejarah senantiasa memiliki lingkup
temporal dan spasial (waktu dan ruang), di mana keduanya merupakan faktor yang
membatasi fenomena sejarah tertentu sebagai unit (kesatuan), apakah itu perang,
riwayat hidup, kerajaan, dan lain sebagainya (Kartodirdjo, 1992: 130).
Mengenai kedekatan ilmu
geografi dan sejarah tersebut, ibarat sekutu lama sejak zaman geografiwan dan
sejarawan Yunani kuno Herodotus. Menurutnya, sejarah dan geografi sudah
demikian terkait, ibarat terkaitnya pelaku, waktu, dan ruang secara terpadu.
Para sejarawan kini dapat mempertimbangkan teori daerah pusat (central place
theory), teori difusi inovasi ruang (spatial diffusion of innovation), maupun
teori ruang sosial (social space) (Hagersrand, 1982; Buttimer, 1971). Kita
hidup si era yang tidak tegas tentang garis-garis damarkasi disiplin ilmu dan
terbukanya batas ranah intelektual, suatu zaman yang mengasyikkan skaligus
membingungkan. Rujukan kepada Ellsworth Huntington, Mikhail Bakhtin, Piere
Bourdieu, Fernan Braudel, Michael Foucault, dan sebagainya dapat ditemukan pada
tulisan-tulisan arkeolog, sejarah, maupun geografi.
Dengan demikian, jelaslah bahwa
peranan spasial dalam geografi distrukturasi berdasarkaan fungsi-fungsi yang
dijlankan menurut tujuan ataukepentingan manusia selaku pemakai. Kemudian,
unit-unit fisik yang dibangun menjadi unsur struktural fungsional dalam sistem
tertentu, ekonomi, sosial, politik, dan kultural. Sedangkan struktur dan fungsi
itu bermakna dalam konteks tertentu, yaitu tidak lepas dari jiwa zaman atau
gaya hidup masanya. Dengan demikian, peranan menjadi kesaksian strukur dalam
kaitannya dengan priode waktu. Di sini hubungan dimensi geografi dengan sejarah
yang tidak dapat dipisah-pisahkan secara kaku.
6.
Hubungan Sejarah dengan Ilmu Ekonomi
Walaupun kita tahu bahwa
sejarah politik pada dua atau tiga abad terakhir begitu dominan dalam
historiografi Barat, namun ironisnya mulai abad ke-20, sejarah ekonomi dalam
berbagai aspeknya pun semakin menonjol, terutama setelah proses modrenisasi, di
mana hampir setiap bangsa di dunia lebih memfokuskan pembangunan ekonomi. Oleh
karena itu, proses industrialisasi beserta transformasi sosial yang
mengikutinya menuntut pengkajian pertumbuhan ekonomi dari sistem produksi
agraris ke sistem produksi industrial ( Kartodirdjo, 1992: 136).
Terbentuknya jaringan navigasi
atau transformasi perdagangan di satu pihak dan pihak lain, serta jaringan
daerah industri dan bahan mentah mengakibatkan munculnya suatu sistem global
ekonomi. Lahirnya sistem global ekonomi tersebut memiliki implikasi yang sangat
luas dan mendalam, tidak hanya pada bidang ekonomi saja, tetapi erat
hubungannya dengan bidang lain, misalnya bidang politik. Hal itu tampak dengan
pertumbuhan kapitalisme, mulai dari kapitalisme komersial, industrial, hingga
finansial. Ekspansi politik yang mendukungnya, mengakibatkan timbulnya the
scramble for colonies, persaingan tidak sehat yang menjurus ke konflik politik
dan perebutan jajahan, singkatnya makin merajalelanya imperialisme (
Kartodirdjo, 1992: 137).
Sepanjang masa modren, yaitu
lebih kurang sejak 1500, kekuatan-kekuatan ekonomis yang sentripetal mengarah
ke pemusatan pasar dan produksi ke Eropa Barat, suatu pola perkembangan yang
hingga Perang Dunia II masih tampak. Dari pertumbuhan sistem ekonomi global
yang kompleks itu menurut Kartodirdjo (1992: 137) dapat dieksplorasikan
beberapa tema penting, antara lain:
a)
Proses perkembangan ekonomi (economic development) dari
sistem agraris ke sistem industrial, termasuk organisasi pertanian, pola
perdagangan lembaga-lembaga keuangan, kebijaksanaan komersial, dan pemikiran
(ide) ekonomi.
b)
Pertumbuhan akumulasi modal mencakup peranan pertanian,
pertumbuhan penduduk, dan peranan perdagangan internasional.
c)
Proses industrialisasi beserta soal-soal perubahan
sosial.
d)
Sejarah ekonomi yang bertalian erat dengan permasalahan
ekonomi, seperti kenaikan harga, konjungtur produksi agraris, ekspansi
perdagangan, dan sebagainya.
e)
Sejarah ekonomi kuantitatif yang mencakup antara lain
Gross National Product (GNP) per capita income.
Perkembangan sejarah ekonomi
mengalami pula difrensiasi dan supspesialisasi, antara lain dengan timbulnya
ejarah pertanian, sejarah kota, sejarah bisnis, sejarah perburuhan, sejarahnformasi
kapital.
7.
Hubugan Sejarah dengan Ilmu Politik
Politik adalah sejarah masa
kini, dan sejarah adalah politik masa lampau. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa
sejarah sering diidentikkan dengan politik, sejauh ini keduanya menunjukkan
proses yang mencakup keterlibatan para aktor dalam intraksinyaserta peranannya
dalam usaha memperoleh “apa”, ”kapan”, dan “bagaimana” (Kartodirdjo,1992:
148-149).
Di zaman sekarang, sebenarnya
sejarah politik masih cukup menonjol. Tetapi sedominan masa lampau. Hal itu
sangatmenarik bahwa pengaruh ilmu politik dan ilmu-ilmu sosial sungguh besar
dalam penulisan sejarah politik yang lebih tepat disebut sejarah politik gaya
baru.
Otoritas dan struktur kekuasaan
sangat dipengaruhi oleh orientasi nilai-nilai dan pandangan hidup para pelaku
sejarah. Dengan demikian, kerangka konseptualnilmu politik menyediakan banyak
alat untuk menguraikan berbagai unsur politik, aspek politik, kelakuan aktor,
nilai-nilai yang melembaga sebagai sistem politik, dan lain sebagainya
(Kartodirdjo, 1992: 150).
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Ilmu sejarah adalah ilmu
tentang masa lampau yaang memiliki metode-metode: (1) heuristik (pengumpulan
sumber-sumber); (2) kritik atau analisis sumber (eksternal dan internal); (3)
interpretasi; (4) historiografi (peulisan sejarah). Sementara itu sejarah juga
memiliki ilmu-ilmu bantu seperti: Paleontologi, arkeologi, paleontropologi,
paleografi, epigrafi, ikonografi, numisnatik, ilmu keramik, genealogi,
filologi, bahasa, statistik, dan etnografi.
Sementara itu, hubungan ilmu
sejarah dengan ilmu-ilmu yang lain seperti, hubungan ilmu sejarah dengan ilmu
sosiologi, hubungan ilmu sejarah dengan ilmu antropologi, hubungan ilmu sejarah
dengan antropologi budaya, hubungan ilmu sejarah dengan ilmu psikologi, hubungan
sejarah dengan ilmu geografi, hubungan sejarah dengan ilmu ekonomi, dan
hubungan ilmu sejarah dengan ilmu politik.
3.2. Saran
Dalam mempelajari
sebuah ilmu, dalam hal ini ilmu sejarah kita harus melihat bagaimana
metode-metode dalam ilmu tersebut, ilmu apa saja yang menjadi ilmu bantu dari
ilmu sejarah, serta kita harus mengetahui hubungan dari ilmu sejarah dengan
ilmu yang lain.
Dalam belajar sejarah kita harus memperhatikan semua itu,
supaya pemahaman kita tentang sejarah lebih baik, dan kita bisa melestarikan
atau mengembangkan ilmu sejarah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Supardan, Dadang. 2008. Pengantar Ilmu Sosial: Suatu Kajian
Pendekatan
Struktural. Jakarta: PT Bumi Aksara