Rabu, 18 Maret 2015

Makalah tentang ilmu sejarah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Dalam mempelajari sebuah disiplin ilmu, kita harus mengetahui bagaimana metode atau cara-cara yang ada dalam mempelajari sebuah disiplin ilmu tersebut. Dalam belajar sebuah disiplin ilmu kita juga harus mengetahui bagaimana atau apa saja ilmu bantu yang ada dari disiplin ilmu tersebut, karena sebuah disiplin ilmu pasti memerlukan ilmu-ilmu bantu. Selain kedua hal tersebut, kita juga harus mengetahui bagaimana hubungan disiplin ilmu tersebut dengan disiplin ilmu-ilmu yang lain.
Semua uraian di atas juga terdapat dalam disiplin ilmu sejarah. Dalam mempelajari disiplin ilmu sejarah kita tidak lepas dari metode-metode atau cara-cara, apalagi sejarah adalah sebuah ilmu tentang kehidupan di masa lampau, agar penjelasan tentang masa lampau tersebut dapat dimengerti atau dipahami tentunya dalam membuat sebuah pernyataan sejarah seorang sejarawan harus memiliki metode-metode. Dalam upaya penjelasan sejarah para sejarawan juga tidak lepas dari bantuan ilmu-ilmu yang lain, karena dalam pengumpulan data-data untuk penjelasan sejarah seorang sejarawan harus menggunakan ilmu bantu seperti, ilmu tentang gejala alam, ilmu tentang masyarakat, dan yang lainnya. Selain itu, sejarah tentunya juga memiliki hubungan dengan ilmu yang lainnya. Walaupun sejarah adalah ilmu yang mandiri, tapi sejarah juga memiliki hubungan dengan ilmu yang lainnya.
1.2.            Rumusan Masalah 
1.      Apa metode-metode dalam ilmu sejarah ?
2.      Apa ilmu bantu dalam ilmu sejarah ?
3.      Bagaimana hubungan ilmu sejarah dengan ilmu yang lain ?

1.3.            Tujuan
1.      Menjelaskan apa saja metode-metode dalam ilmu sejarah.
2.      Menjelaskan ilmu-ilmu bantu dalam ilmu sejarah.
3.      Menjelaskan bagaimana hubungan ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu yang lain.






















BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Metode Dan Ilmu Bantu Sejarah
Dalam metodologi riset, kita sering mendengar metode historis dengan langkah-langkah, define the problems or question to be investigated; searh for sources of historical fact; summarize and evalute the historical source; and present the pertinent facts within an interpretative framework (Edson, 1986: 20) ‘menggambarkan permasalahan atau pertanyaan untuk diselidiki; mencari sumber tentang fakta historis; meringkas dan mengevaluasi sumber-sumber historis; dan menyajikan fakta-fakta yang bersangkutan dalam suatu kerangka interpretatif’. Sepintas, tampaknya begitu mudah untuk mengadakan penelitian historis tersebut, namun dalam praktiknya tidak saemudah yang kita bayangkan. Secara sederhana, Ismaun (1993: 125-123) mengemukakan bahwa dalam metode sejarah meliputi meliputi (1) heuristik (pengumpulan sumber-sumber); (2) kritik atau analisis sumber (eksternal dan internal); (3) interpretasi; (4) historiografi (peulisan sejarah). Di sini jelas bahwa untuk melakukan penelitian dan penulisan sejarah dituntut keterampilan-keterampilan khusus tertentu.
Namun, seorang sejarawan ideal, baik itu sejarawan profesional maupun sebagai sejarawan pendidik (guru sejarah) perlu memiliki latar belakang beberapa kemampuan yang dipersyaratkan. Sjamsudin (1996: 68-69) merinci ada tujuh kriteria yang dipersyaratkan sebagai sejarawan, sebagai berikut.
1.      Kemampuan praktis mengartikulasi dan mengekspresikan pengetahuannya secara menarik, baik secara tertulis maupun lisan.
2.      Kecakapan membaca dan/atau berbicara dalam satu atau dua bahasa asing atau daerah.
3.      Menguasai satu atau lebih disiplin kedua, terutama ilmu-ilmu sosial lainya, seperti antropologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi, atau ilmu-ilmu kemanusian (humaniora), seperti filsafat, seni atau sastra, bahkan kalau mungkin relevan juga yang berhubungan dengan ilmu-ilmu alam.
4.      Kelengkapan dalam penggunaan pemahaman (insight) psikologi, kemampaun imajinasi, dan empati.
5.      Kemampuan membedakan antara profesi sejarah dan sekedar hobi antikurian, yaitu pengumpulan benda-benda antik.
6.      Pendidikan yang luas (broad culture) selama hidup sejak dari masa kecil.
7.      Dedikasi pada profesi dan integrasi pribadi, baik sebagai sejarawan peneliti maupun sebagai sejarawan pendidik.
Selanjutnya, dikemukakan pula oleh Gray (1964: 9) bahwa seorang sejarawan minimal memiliki enam tahap dalam penelitian sejarah.
1.      Memilih suatu topik yang sesuai.
2.      Mengusut semua evidensi atau bukti yang relevan dengan topik.
3.      Membuat catatan-catatan penting dan relevan dengan topik yang ditemukan ketika penelitian dilakukan.
4.      Mengevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah dikumpulkan atau melakukan kritik sumber secara eksternal dan internal.
5.      Mengusut hasil-hasil penelitian dengan mengumpulkan catatan fakta-fakta secara sistematis.
6.      Menyajikan dalam suatu cara yang menarik serta mengomunikasikannya kepada pembaca dengan menarik pula.
Sedangkan sebagai ilmu bantu dalam penelitian, sejarah terdiri atas hal-hal berikut.
1.      Paleontologi, yaitu ilmu tentang bentuk-bentuk kehidupan purba pernah ada di muka bumi, terutama fosil-fosil.
2.      Arkeologi, yaitu kajian ilmiah mengenai hasil kebudayaan, baik dalam priode prasejarah maupun priode sejarah yang ditemukan melalui ekskavasi-ekskavasi di situs-situs arkeolog.
3.      Paleontropologi, yaitu ilmu tentang manusia-manusia purba atau antropologi ragawi.
4.      Paleografi, yaitu kajian tentang tulisaan-tulisan kuno, termasuk ilmu membaca dan penentuan waktu/tanggal/tahun.
5.      Epigrafi, yaitu pengetahuan tentang cara membaca, menentukan waktu, serta menganalisis tulisan kuno pada benda-benda yang dapat bertahan lama (batu, logam, dan sebagainya)
6.      Ikonografi, yaitu arca-arca atau patung-patung kuno sejak zaman prasejarah maupun sejarah.
7.      Numisnatik, yaitu tentang ilmu mata uang, asal usul, teknik pembuatan, dan mitologi.
8.      Ilmu keramik, kajian tentang barang-barang untuk tembikar dan porselin.
9.      Genealogi, yaitu pengetahuan tentang asal usul nenek moyang asal mula keluarga seseorang maupun beberapa orang.
10.  Filologi, yaitu ilmu tentang naskah-naskah kuno.
11.  Bahasa, yaitu pengusaan tentang beberapa bahasa, baik bahasa asing maupun bahsa daerah yang diperlukan dalam penelitian sejarah.
12.  Statistik, adalah sebagai presentasi analisis dan interpretasi angka-angka terutama dalam quantohistory atau cliometry
13.  Etnografi, merupakan kajian bagian antropologi tentang deskripsi dan analisis kebudayaan suatu masyarakat tertentu.
2.2. Hubungan Ilmu Sejarah Dengan Ilmu-Ilmu Sosial Lainya
1.      Hubungan Sejarah dengan Sosiologi
Hal ini lebih tampak lagi dengan cepatnya perubahan sosial jelas menarik perhatian bukan saja sejarawan, tetapi juga sosiologiwan. Sebab para sosiologiwan yang menganalisis berbagai persyaratan pembangunan pertanian dan industri di negara-negara yang disebut negara berkembang memperoleh kesan yang mereka kaji adalah tentang perubahan dari waktu ke waktu, dengan kata lain sejarah. Sebagian di antaranya, seperti sosiologiwan Amerika Serikat Imanuel Wallerstein yang begitu tergoda untuk memperluas penyelidikannay hingga jauh ke masa silam, khususnya tentang Ekonomi Dunia Kapitalis (Wallerstein, 1996: 537).
Terdapat tiga tokoh besar ahli sosiologiwan yang sangat mengagumi sejarah, yaitu Pareto, Durkheim, dan Weber, mereka menguasai sejarah dengan amat baik. Buku Vilfredo Pareto, Treatise on General Sociology (1916) banyak berbicara tentang sejarah Athena, Sparta, Romawi klasik dengan mengambil contoh-contoh sejarah Italia Abad Pertengahan. Sementara itu, Emile Durkheim yang dikenal sebagai salah seorang tokoh pendiri sosiologi sebagai ilmu, ia melakukan pembedaan antara sosiologi, sejarah, filsafat, dan psikologi. Dia merasa perlu belajar sejarah kepada Fustel de Coulanges. Bahkan, salah satu bukunya itu dipersembahkan untuk Coulanges, ia pun menulis monograf sejarah pendidikan Prancis. Selain itu, ia menjadikan buku sejarah sebagai salah satu sajian jurnal Anne Sociologique, dengan syarat pembahasan buku itu bukan hal-hal yang superfisial seperti umumnya buku-buku sejarah peristiwa (Lukes, 1973; Burke, 2001). Sedangkan tentang Max Weber, sosiologi yang memiliki wawasan luas tentang sejarah, sebelum melakukan studi untuk bukunya The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism (1904-1905), sebelumnya ia telah menulis tentang perniagaan abad pertengahan serta sejarah pertanian zaman Romawi Kuno.
Apalagi akhir-akhir ini banyak sekali karya sosiologiwan diterbitkan yang berupa studi sosiologis mengenai gejala sosial atau sociofact di masa lampau, seperti Pemberontakan Petani karya Tilly, Perubahan masa Revolusi Industri di Inggris oleh Smelzer, dan Asal Mula Sistem Totaliter dan Demokrasi oleh Barrington Moore, yang kesemuannya itu disebut sebagai historical sociology ‘sejarah sosiologis’ (Kartodirdjo, 1992: 144). Adapun karakteristik dari historical sosiology tersebut bahwa studi sosiologis tentang suatu kejadian atau gejala di masa lampau yang dilakukan oleh para sosiologiwan.
Di satu pihak, sekarang ini pun sedang terjadi apa yang disebut sociological history (sejarah sosiologis) yang menunjuk kepada sejarah ang disusun oleh sejarawan dengan pendekatan sosiologis. Timbul pertanyaan, mengapa perkembangan ilmu sejarah atau studi sejarah kritis sejak akhir Perang Dunia II menunjukkan kecenderungan kuat untuk mempergunakan pendekatan ilmu sosial?
   Untuk menjawab itu, memang akhir-akhir ini sedang terjadi a[a yang disebut sebagai gejala Rapprochement atau proses saling mendekat antara ilmu sejarah dan ilmu-ilmu sosial. Metode kritis ini berkembang pesat sejak diciptakan oleh Mabilon sehingga terjadi inovasi-inovasi yang sangat penting dalam sejarah,yang mana dapat menyelamatkan sejarah dari “kemacetan” (Kartodirdjo:1992: 120). Sebab jika dipandang dari titik sejarah konvensional, perubahan metodologi tersebut sangat revolusioner dengan meninggalkan model penulisan sejarah naratif. Dikatakan revolusioner karena ilmu sejarah lebih bergeser ke ilmu sosial. Perubahan paradigma ini beranggapan bahwa dapat diingkari tanpa bantuan budaya, dan geografi, sukar dianalisis dan dipahami proses-prosesnya. Kombinasi antar berbagai perspektif akan mampu mengekstrapolasikan interdepensi antara berbagai aspek kehidupan. Dalam hal ini, sejarawan tidak langsung berurusan dengan kausalitas, tetapi lebih banyak kondisi-kondisi dalam berbagai dimensinya.
2.      Hubungan Sejarah dengan Antropologi
Hubungan ini dapat dilihat karena kedua disiplin ini memiliki persamaan yang menempatkan manusia sebagai subjek dan objek kajiannya, lazimnya mencakup berbagai dimensi kehidupan. Dengan demikian, di samping memiliki titik perbedaan, kedua disiplin itu pun memiliki persamaan. Bila sejarah membatasi diri pada penggambaran suatu peristiwa sebagai proses di masa lampau dalam bentuk cerita secara einmalig ‘sekali terjadi’, hal ini tidak termasuk bidang kajian antropologi. Namun, jika suatu penggambaran sejarah menampilkan suatu masyarakat di masa lampau dengan berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, politik, religi, dan keseniannya maka gambaran tersebut mencakup unsur-unsur kebudayaan masyarakat. Dalam hal itu ada persamaan bahkan tumpang-tindih antara sejarah dan abtropologi (Kartodirdjo, 1992: 153).
Memang ada persamaan yang menarik jika hal itu dihubungkan dengan ucapan antropolog terkemuka Evans-Pritchard. Ia mengemukakan bahwa Antropologi adalah sejarah. Hal itu dapat dipahami karena dalam studi antropologi diperlukan pula penjelasan tentang struktur-struktur sosial yang berupa lembaga-lembaga, pranata, dan sistem-sistem, yang kesemuanya itu akan dapat diterangkan secara lebih jelas apabila diungkapkan bahwa struktur itu adalah produk dari suatu perkembangan masa lampau. Karena antropologi pun mempelajari objek yang sama, yaitu tiga jenis fakta yang terdiri atas artifact, sociofact, dan mentifact, di mana semuanya adalah produk historis dab hanya dapat dijelaskan eksistensinya dengan melacak sejarah perkembangannya (Kartodirdjo,1992:153).

3.      Hubungan Antropologi Budaya dengan Sejarah
Hal ini dapat dipahami, mengingat ada dua hal yang penting. Pertama, makna kebudayaan telah semakin meluas karena semakin luasnya perhatian para sejarawan, sosiologiwan, mengkritisi sastra, dan lain-lain. Perhatian semakin dicurahkan kepada kebudayaan populer, yakni sikap-sikap dan nilai-nilai masyarakat awam serta pengungkapannya ke dalam kesenian rakyat, lagu-lagu rakyat, cerita rakyat, festival rakyat, dan lain-lain (Burke, 1978; Yeo dan Yeo, 1981). Kedua, mengingat semakin luasnya makna kebudayaan semakin meningkat pula kecenderungan untuk menganggap kebudayaan sebagai sesuatu yang aktif, bukan pasif. Kaum strukturalis tentu telah berusaha mengembalikan keseimbangan itu yang telah terancam begitu lama, terutama Levi-Strauss, pada mulanya begitu membanggakan KarL Marx, akhirnya berpaling kembali kepada Hegel dengan mengatakan bahwa yang sebenarnya struktur dalam bukanlah tatanan sosial dan ekonomi, melainkan kategori mental (Burke, 2001: 178).
4.      Hubungan Sejarah dengan Psikologi
Dalam cerita sejarah, aktor atau pelaku sejarah senantiasa mendapat sorotan yang tajam, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Sebagai aktor individu, tidak lepas dari peranan faktor-faktor internal yang bersifat psikologis, seperti motivasi, minat, konsep diri, dan sebagainya yang selalu berintraksi dengan faktor-faktor eksternal yang bersifat sosiologis, seperti lingkungan keluarga, lingkungan sosial budaya, dan sebagainya. Begitu pun dalam aktor yang bersifat kelompok menunjukkan aktivitas kolektif, yaitu suatu gejala yang menjadi objek khusus psikologi sosial. Dalam berbagai peristiwa sejarah, perilaku kolektif sangat mencolok, antara lain sewaktu ada huru hara, masa mengamuk (mob), gerakan sosial, atau protes revolusioner, semuanya penjelasan berdasarkan psikologi dari motivasi, sikap, dan tindakan kolektif (Kartodirdjo, 1992: 139). Di situlah psikologi berperan untuk mengungkap beberapa faktor tersembunyi sebagai bagian proses mental.
Sampai sejauh ini, peranan ilmu psikologi dalam pembahasan sejarah masih agak marginal. Alasanya terletak pada relasi antara psikologi dengan ilmu sejarah. Pada tahun 1920-an dan 1930-an, dua sejaran Prancis March Bloch dan Lucien Febre menyebarluaskan praktik-praktik historical psychology ‘psikologi sejarah’. Setelah Erik Erikson, pengikut Freud melakukan pengkajian sejarah yang dilakukan secara psikoanalitis terhadap tokoh sejarah, ternyata menimbulkan perdebatan sengit.
Pada tahun 1940-an, ada usaha kembali untuk mendekatkan disiplin sejarah dengan psikologi, terutama sintesis pandangan Karl Marx dan Sigmund Freud oleh Erich Fromm, dan kajian kolektif  tentang kepribadian otoriter yang dipimpin oleh Theodor Adorno (Fromm, 1942; Adorno, 195). Relevansi kedua disiplin itu bagi sejarah adalah penting karena bertolak pada asumsi “jika kepribadian dasar berbeda-beda pula antarasatu masyarakat dan masyarakat lainnya, pastilah ia berbeda-beda pula antara satu periode dan periode lainya”. Selain itu , pendekatan psikologis paling tidak dapat dilakukan dengan tiga cara.
Pertama, sejarawan terbebas dari asumsi yang hanya berdasarkan akal sehat tentang sifat manusia  (Burke, 2001: 172-174). Kedua, teori para ahli psikologi memberikan sumbangan pada proses kritik sumber. Agar autobiografi atau buku harian dapat digunakan secara tepat sebagai bukti sejarah, perlu dipertimbangkan usia sang penulis, posisinya dalam siklus kehidupan, maupun catatan mimpi-mimpinya (Erikson, 1958: 701-702). Ketiga, ada sumbangan dari para ahli psikologi bagi sejarah, yakni para psikologi telah banyak memberi perhatian pada “psikologi pengikut” di samping pada “psikologi pemimpin”. Di samping itu, beberapa ahli psikologi pun telah membahas hubungan antara apa yang disebut aspek psikologistik motivasi dengan aspek sosiologistik motivasi. Dengan kata lain, apa yang ada dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai motif publik dan motif pribadi (Burke, 2001: 174). 
5.      Hubungan Sejarah dengan Geografi
Hubungan ini dapat dilihat dari suatu aksioma bahwa setiap peristiwa sejarah senantiasa memiliki lingkup temporal dan spasial (waktu dan ruang), di mana keduanya merupakan faktor yang membatasi fenomena sejarah tertentu sebagai unit (kesatuan), apakah itu perang, riwayat hidup, kerajaan, dan lain sebagainya (Kartodirdjo, 1992: 130).
Mengenai kedekatan ilmu geografi dan sejarah tersebut, ibarat sekutu lama sejak zaman geografiwan dan sejarawan Yunani kuno Herodotus. Menurutnya, sejarah dan geografi sudah demikian terkait, ibarat terkaitnya pelaku, waktu, dan ruang secara terpadu. Para sejarawan kini dapat mempertimbangkan teori daerah pusat (central place theory), teori difusi inovasi ruang (spatial diffusion of innovation), maupun teori ruang sosial (social space) (Hagersrand, 1982; Buttimer, 1971). Kita hidup si era yang tidak tegas tentang garis-garis damarkasi disiplin ilmu dan terbukanya batas ranah intelektual, suatu zaman yang mengasyikkan skaligus membingungkan. Rujukan kepada Ellsworth Huntington, Mikhail Bakhtin, Piere Bourdieu, Fernan Braudel, Michael Foucault, dan sebagainya dapat ditemukan pada tulisan-tulisan arkeolog, sejarah, maupun geografi.
Dengan demikian, jelaslah bahwa peranan spasial dalam geografi distrukturasi berdasarkaan fungsi-fungsi yang dijlankan menurut tujuan ataukepentingan manusia selaku pemakai. Kemudian, unit-unit fisik yang dibangun menjadi unsur struktural fungsional dalam sistem tertentu, ekonomi, sosial, politik, dan kultural. Sedangkan struktur dan fungsi itu bermakna dalam konteks tertentu, yaitu tidak lepas dari jiwa zaman atau gaya hidup masanya. Dengan demikian, peranan menjadi kesaksian strukur dalam kaitannya dengan priode waktu. Di sini hubungan dimensi geografi dengan sejarah yang tidak dapat dipisah-pisahkan secara kaku.
6.      Hubungan Sejarah dengan Ilmu Ekonomi
Walaupun kita tahu bahwa sejarah politik pada dua atau tiga abad terakhir begitu dominan dalam historiografi Barat, namun ironisnya mulai abad ke-20, sejarah ekonomi dalam berbagai aspeknya pun semakin menonjol, terutama setelah proses modrenisasi, di mana hampir setiap bangsa di dunia lebih memfokuskan pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, proses industrialisasi beserta transformasi sosial yang mengikutinya menuntut pengkajian pertumbuhan ekonomi dari sistem produksi agraris ke sistem produksi industrial ( Kartodirdjo, 1992: 136).
Terbentuknya jaringan navigasi atau transformasi perdagangan di satu pihak dan pihak lain, serta jaringan daerah industri dan bahan mentah mengakibatkan munculnya suatu sistem global ekonomi. Lahirnya sistem global ekonomi tersebut memiliki implikasi yang sangat luas dan mendalam, tidak hanya pada bidang ekonomi saja, tetapi erat hubungannya dengan bidang lain, misalnya bidang politik. Hal itu tampak dengan pertumbuhan kapitalisme, mulai dari kapitalisme komersial, industrial, hingga finansial. Ekspansi politik yang mendukungnya, mengakibatkan timbulnya the scramble for colonies, persaingan tidak sehat yang menjurus ke konflik politik dan perebutan jajahan, singkatnya makin merajalelanya imperialisme ( Kartodirdjo, 1992: 137).     
Sepanjang masa modren, yaitu lebih kurang sejak 1500, kekuatan-kekuatan ekonomis yang sentripetal mengarah ke pemusatan pasar dan produksi ke Eropa Barat, suatu pola perkembangan yang hingga Perang Dunia II masih tampak. Dari pertumbuhan sistem ekonomi global yang kompleks itu menurut Kartodirdjo (1992: 137) dapat dieksplorasikan beberapa tema penting, antara lain:
a)      Proses perkembangan ekonomi (economic development) dari sistem agraris ke sistem industrial, termasuk organisasi pertanian, pola perdagangan lembaga-lembaga keuangan, kebijaksanaan komersial, dan pemikiran (ide) ekonomi.
b)      Pertumbuhan akumulasi modal mencakup peranan pertanian, pertumbuhan penduduk, dan peranan perdagangan internasional.
c)      Proses industrialisasi beserta soal-soal perubahan sosial.
d)     Sejarah ekonomi yang bertalian erat dengan permasalahan ekonomi, seperti kenaikan harga, konjungtur produksi agraris, ekspansi perdagangan, dan sebagainya.
e)      Sejarah ekonomi kuantitatif yang mencakup antara lain Gross National Product (GNP) per capita income.
Perkembangan sejarah ekonomi mengalami pula difrensiasi dan supspesialisasi, antara lain dengan timbulnya ejarah pertanian, sejarah kota, sejarah bisnis, sejarah perburuhan, sejarahnformasi kapital.
7.      Hubugan Sejarah dengan Ilmu Politik
Politik adalah sejarah masa kini, dan sejarah adalah politik masa lampau. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa sejarah sering diidentikkan dengan politik, sejauh ini keduanya menunjukkan proses yang mencakup keterlibatan para aktor dalam intraksinyaserta peranannya dalam usaha memperoleh “apa”, ”kapan”, dan “bagaimana” (Kartodirdjo,1992: 148-149).
Di zaman sekarang, sebenarnya sejarah politik masih cukup menonjol. Tetapi sedominan masa lampau. Hal itu sangatmenarik bahwa pengaruh ilmu politik dan ilmu-ilmu sosial sungguh besar dalam penulisan sejarah politik yang lebih tepat disebut sejarah politik gaya baru.
Otoritas dan struktur kekuasaan sangat dipengaruhi oleh orientasi nilai-nilai dan pandangan hidup para pelaku sejarah. Dengan demikian, kerangka konseptualnilmu politik menyediakan banyak alat untuk menguraikan berbagai unsur politik, aspek politik, kelakuan aktor, nilai-nilai yang melembaga sebagai sistem politik, dan lain sebagainya (Kartodirdjo, 1992: 150).


















BAB III
PENUTUP
3.1.            Kesimpulan
Ilmu sejarah adalah ilmu tentang masa lampau yaang memiliki metode-metode: (1) heuristik (pengumpulan sumber-sumber); (2) kritik atau analisis sumber (eksternal dan internal); (3) interpretasi; (4) historiografi (peulisan sejarah). Sementara itu sejarah juga memiliki ilmu-ilmu bantu seperti: Paleontologi, arkeologi, paleontropologi, paleografi, epigrafi, ikonografi, numisnatik, ilmu keramik, genealogi, filologi, bahasa, statistik, dan etnografi.
Sementara itu, hubungan ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu yang lain seperti, hubungan ilmu sejarah dengan ilmu sosiologi, hubungan ilmu sejarah dengan ilmu antropologi, hubungan ilmu sejarah dengan antropologi budaya, hubungan ilmu sejarah dengan ilmu psikologi, hubungan sejarah dengan ilmu geografi, hubungan sejarah dengan ilmu ekonomi, dan hubungan ilmu sejarah dengan ilmu politik.
3.2.      Saran
            Dalam mempelajari sebuah ilmu, dalam hal ini ilmu sejarah kita harus melihat bagaimana metode-metode dalam ilmu tersebut, ilmu apa saja yang menjadi ilmu bantu dari ilmu sejarah, serta kita harus mengetahui hubungan dari ilmu sejarah dengan ilmu yang lain.
            Dalam belajar sejarah kita harus memperhatikan semua itu, supaya pemahaman kita tentang sejarah lebih baik, dan kita bisa melestarikan atau mengembangkan ilmu sejarah tersebut.








DAFTAR PUSTAKA

Supardan, Dadang. 2008. Pengantar Ilmu Sosial: Suatu Kajian Pendekatan

Struktural. Jakarta: PT Bumi Aksara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar